Sumenep Majalah Indonesia
Potensi tanaman holtikultura di Kecamatan Rubaru, bisa dikatakan hampir tidak pernah punah sepanjang tahun, boleh dikatakan tidak mengenal musim hujan maupun musim kemarau, tanaman holtikultura, seperti cabe, bawang merah, kacang panjang, timun, terong dan sejumlah tanaman holtikultura lainnya tetap menjadi andalan petani.
Bahkan, di Desa Pakondang misalnya, mayoritas petani memilih tanaman cabe rawit tidak hanya dimusim hujan, namun musim kemaraupun petani tetap mempertahankan tanaman yang kadang memiliki harganya selangit ini. Meskipun didaerah lainnya di Sumenep banyak tanam tembakau, namun di Kecamatan Rubaru mayoritas memilih tanaman cabe dan semacamnya.
“masyarakat petani disini sudah cocok dengan tanaman cabe, puluhan hektar di Desa kami ditanami cabe rawit karena petani seringkali menikmati manisnya tanam cabe.”ujar Kepala Desa Pakondang, Osman kepada Majalah Indonesia..
Dijelaskan, hampir setiap hari, tanaman cabe dikirim oleh pengepul ke Jakarta serta daerah lainnya di Jawa dan sebagainya. Meskipun diakui, harganya memang tidak stabil, namun petani tetep berharap bisa menikmati saat-saat harga cabe naik. Karena tanaman cabe di Desa Pakondang sendiri sudah menjadi pilihan petani disana, seperti halnya petani yang fanatik dengan tanaman tembakau didaerah lain.
Menurut Osman, saat ini harga cabe di petani memang tidak sebagus harga sebelumya sebelum bulan puasa. Namun, menjelang Idhul Adha harga cabe kembali mulai ada kenaikan. Jika harga cabe biasa di petani sekitar Rp. 19.000/ kilogram untuk cabe biru, namun untuk cabe merah bisa lebih tinggi. Bahkan, untuk cabe rawit merah yang biasanya dijual ke pasar oleh petani bisa mencapai Rp. 40.000/ kilogram.
“memang rata-rata cabe yang di panen petani yang belum merah karena pedagang biasanya masih dikirim keluar kota, sehingga jika membeli cabe yang sudah merah akan membusuk.”jelas Osman.
Osman bersyukur, dengan budidaya tanaman cabe di desanya, masyarakat petani bisa dikatakan sejahtera, bahkan banyak yang sukses dengan usaha tanam cabe. Terbukti, hampir setiap tahun masyarakat Desa Pakondang banyak yang menunaikan haji.
“Hanya sayangnya, untuk melaksanakan Ibadah Haji saat ini, daftar sekarang masih harus menunggu beberapa tahun lagi. Padahal, dulunya begitu meraup hasil petani langsung bisa pergi Haji, jadi lebih bersemangat. “ keluhnya.
Osman juga berharap, perhatian pemerintah kepada petani di Desanya, khususnya yang masih belum memiliki banyak modal untuk ada perhatian dengan petani cabe. Sebab, selama ini yang ada untuk bantuan tanaman tembakau, jadi sebagian besar petani cabe justeru tidak mendapat program itu.
Hal senada diungkapkan Kepala UPT Pertanian Kecamatan Rubaru, Ir. Sakdawi Jayadi ketika ditemui Majalah Indonesia, Jumat (27/09) di kantornya. Menurutnya, hampir semua tanaman holtikultura di Kecamatan Rubaru memiliki potensi dan petani hampir tidak pernah jenuh untuk menanamnya, meskipun terkadang harganya naik-turun. Namun, petani sepertinya tidak pernah putus asa untuk selalu menanam. Seperti halnya untuk tanaman cabe di Kecamatan Rubaru, selalu mengalami naik-turunnya harga, yang kadang tinggi dan adakalanya turun drastis.
”misalnya saja, sekitar 2 hingga 3 bulan lalu, harga cabe sempat naik, bahkan hingga mencapai Rp. 50.000,00 hingga Rp. 60.000,00/kilogramnya,”ungkapnya.
Dijelaskan, untuk tanaman cabe rawit di Kecamatan Rubaru memiliki luas areal produksi sekitar 125 hektar, dengan potensi hasil produksi mencapai 5,8 ton/hektar, dan untuk cabe besar dari lahan 24 hektar dengan hasil produksi berkisar 5,6 ton/hektar.
Lebih lanjut Sakdawi menjelaskan, disamping tanaman cabe yang sedang tetap bertahan di dua musim, seperti di musim kemarau panas saat ini, komoditas tanaman mentimun sangat diminati, karena permintaan hingga keluar kota juga terus meningkat. Setiap hari, sedikitnya 7 hingga 8 ton timun dikirim oleh pedagang di Kecamatan Rubaru keluar kota, seperti ke Surabaya dan sebagainya.
“Meskipun kondisi lahan pertanian di musim kemarau banyak lahan kering, namun petani di Kecamatan Rubaru tetap menggunakan air bor untuk bertani, sehingga wajar jika Kecamatan Rubaru menjadi wilayah agropolitan di Kabupaten Sumenep,”pungkasnya.
Sementara di daerah lainnya seperti di Kecamatan Talango, tanaman cabe juga banyak diminati, karena sebelumnya memang sempat menjadi ladang keberuntungn petani di Kecamatan yang dikenal dengan Pulau Poteran ini.
Lahan kering dan kurang subur di Kecamatan Talango, tidak membuat petani putus asa untuk membudidaya tanaman pertanian. Bahkan, dari 8 Desa yang ada di Kecamatan Talango, 4 Desa diantaranya, seperti di Desa Poteran, Palasa, Gapurana dan Desa Talango banyak masyarakat yang menanam tanaman holtikultura.
”meskipun tingkat penanaman jenis holtikultura tidak seperti pada musim-musim hujan. Namun, semangat petani untuk terus membudidaya tanaman seperti cabe dan mentimun tetap ada.” Ungkap Kepala UPT Pertanian Kecamatan Talango, Bambang Harimiyanto.
Bahkan, Masyarakat sengaja menggunakan mesin pompa untuk mengairi ladang dan tegalan mereka yang ditanami tanaman, seperti cabe dan semangka pada musim-musim panas seperti sekarang ini.
Meskipun diakui Bambang, hasil produksi untuk cabe misalnya tidak seperti 3 hingga 4 tahun lalu, namun petani tetap menanam meskipun kapasitasnya sedikit. Air pompa biasanya tidak mampu untuk mengairi lahan yang luas, karena, debet air juga sedikit di musim kemarau.
Bahkan, dalam masa panen biasanya untuk tanaman cabe dilakukan sebelum berwarna merah. Karena, dengan kondisi panas, tanaman cabe akan cepat tua dan kering jika dibiarkan merah, sehingga juga menyebabkan harganya dibawah standar.
“Syukurlah, masyarakat petani tetap melakukan penanaman bervariasi, seperti cabe, timun dan semangka yang ternyata tetap bisa menjadi sumber penghasilan mereka selama musim kemarau. Karena, biasnaya untuk musim hujan, msyarakat lebih memilih tanaman jagung dan kacang-kacangan,”tambahnya. ( Ren )
Wawancara Majalah Indonesia dengan Kepala Bidang Produksi Pertanian Dinas Pertanian Tnaman Pangan Kabupaten Sumenep, Ir Salaf Junaidi
Tanaman cabe rawit sepertinya sempat menjadi tanaman primadona petani khususnya di Sumenep, yang ternyata memiliki sejumlah lokasi yang cocok tanaman ini, bagaimana potensi cabe rawit di Sumenep yang sebenarnya?
Sebenarnya, hampir semua tanaman holtikultura di Kabupaten Sumenep sangat memiliki potensi untuk dikembangkan. Seperti halnya yang banyak dilakukan oleh para petani di Kecamatan Rubaru misalnya. Sedangkan tanaman cabe rawit memang merupakan salah satu tanaman holtikulura yang hampir tidak pernah putus musim dilakukan petani.
Selain di Kecamatan Rubaru, daerah perbatasan di Kecamatan Dasuk juga cukup banyak yang menanam cabe rawit termasuk di Kecamatan Talango yang juga sempat menjadi tanaman favorit para petani disana, khususnya pada musim hujan (MH1) dan (MH2) serta musim kemarau (MK1) sedangan pada MK2 biasanya untuk daerah yang sangat kesulitan air tidak banyak yang menanam.
Boleh dijelaskan, potensi cabe rawit dalam 2 tahun terakhir di Kabupaten Sumenep ini seperti apa!
Dari hasil singkronisasi secara Nasional, produksi cabe rawit di Sumenep dalam 2 tahun memang cukup bagus. Sebab, pada tahun-tahun sebelumnya harga cabe rawit sangat tinggi dan menjadi tanaman pilihan petani disamping tanaman pertanian lainnya.
Misalnya, ditahun 2012 hasil produksi cabe rawit di Kabupaten Sumene mencapai sebanyak 6.543 ton dan di tahun 2013 hingga bulan Agustus lalu baru mencapai 3503,8 ton. Bahkan ditahun 2012 alu dari 6 ribu lebih hasil produksi cabe rawit tertinggi di Kecamatan Rubaru sebanyak 1.382, 3 ton sedangkan kedua Dasuk dan Kecamatan Talango diurutan ketiga sebanak 826,3 ton.
Namun ditahun 2013 ini memang untuk MK1 dan MK2 di dominasi Kecamatan Talango, hingga mencapai 1.158,4 ton , sedangkan Kecamatan Rubaru hanya sekitar 206,8 karena. Hal tersebut karena curah hujan yang kurang stabil, sehingga petani cabe di Kecamatan Rubaru memilih tanaman pangan dan tanaman holtikultura lainnya karena memang banyak yang mengandalkan tadah hujan dibandingkan dengan menggunakan pompa air.
Berbeda dengan di Kecamatan Talango yang memang banyak yang menggunakan pompa air rumah tangga. Sehingga petani tetap melakukan penanaman meskipun kapsitasnya tidak sebanyak pada musim hujan. Namun, pada MH1 dan MH2 biasanya pada bulan Nopember nanti, petani di Kecamatan Rubaru akan banyak yang tanam cabe dan tanaman holtikultura seperti timun, kacang serta jagung dan semacamnya.
Potensi lahan pertanian yang ada di Sumenep untuk potensi tanaman holtikultura khusunya tanaman cabe sebesarapa luas?
Jika melihat total lahan sawah di sumenep, sekitar 25 ribu hekta, yakni terdiri dari 16 ribu lahan sawah irigasi dan sekitar 8 ribu lahan irigasi. Sedangkan sisanya merupakan lahan tegalan yang juga banyak digunakan sebagai lahan ertanian khususnya di musim hujan.
Sedangkan tanaman cabe sendiri memang banyak ditanam pada lahan tegalan pada musim-musim kemarau. Sedangkan pada musim hujan biasanya petani banyak memanfaatkan untuk tanaman pertanian seperti jagung, kedelai dan tanaman buah.
Untuk meningkatkan produksi tanaman khususnya tanaman cabe di Sumenep sendiri apa Dinas Pertanian Tanaman Pangan Sumenep memiliki program khusus untuk membantu petani?
Secara khusus program peningkatan pada petani cabe memang tidak ada. Namun sejumlah program untuk kelompok tani dan gabungan kelompok tani memang ada, bahkan sejumlah program seperti Program Usaha Agribisnis Pertanian (PUAP) maupun pemberian bantuan bibit serta subsidi pupuk dilaksanakan setiap tahun melalui program pusat.
Disamping itu juga ada program Sekolah Lapang Pengengelolaan Tanaman Terpadu (SLPTT) yang sudah dilaksanakan sejak tahun 2008 lalu. Sebab, petani bisa memilih sendiri kapan memulai untuk menanam. Dengan menyesuaikan kondisi cuaca yang memungkinkan untuk memulai penanaman.
Dan hingga saat ini masih efektif dilaksanakan oleh patani untuk bisa melaksanakan pertanian secara mandiri. Dan banyak dilakukan untuk petani tanaman padi, jagung dan kedelai yang terbagi di sejumlah kelompok tani yang tersebar di Kabupaten Sumenep.
Namun, khusus untuk tanaman cabe di Sumenep sendiri memang banyak dikembangkan oleh petani secara mandiri. Karena tanaman cabe kami akui bukan komoditas prioritas, tapi yang masuk varitas unggulan justeru bawang merah yang setiap tahun mendapat bantuan dana alokasi APBN melalui Kementrian Pertanian. Sedangkan, tanaman cabe meskipun sudah banyak memberikan kontribusi untuk perusahaan-perusahaan, tapi belum menjadi varitas utama dari Sumenep. (ren)
Semoga Bermanfaat dan Memberi Warna HiKmah Inspirasi Kita, Amien
Semoga Bermanfaat dan Memberi Warna HiKmah Inspirasi Kita, Amien
Tidak ada komentar:
Posting Komentar